Pembuatan Batik Ecoprint sebagai Implementasi Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SMPN 1 Raas
Raas, Spenras.com. Siswa-siswi SMPN 1 Raas mengikuti projek pembuatan batik ecoprint. Hal ini sebagai implementasi pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Mengangkat tema “Kearifan Lokal”, SMPN 1 Raas melanjutkan P5 setelah sukses pada tema 1 dengan tema “Kewirausahaan”.
Koordinator Tim P5, Imron Rosadi, S.Pd mengatakan kegiatan proyek dengan tema Kearifan
Lokal ini merupakan implementasi dalam memanfaatkan lingkungan sekitar.
“Pada tema ini anak
dikenalkan pembuatan batik ecoprint. Ecoprint ini merupakan salah satu jenis batik yang metode
pembuatannya memanfaatkan pewarna alami dari tanin atau zat warna daun, yang diletakan pada sehelai kain. Jadi bisa dikatakan ramah
lingkungan,” imbuhnya
Ia menambahkan dalam poyek ini ada 4 modul yang dipersiapkan. Modul pertama berisi pengenalan ecoprint dan kearifan lokal. Modul 2 membahas tentang pengenalan alat dan bahan ecoprint. Praktek pembuatan ecoprint terdapat di modul 3.
Ia menambahkan dalam poyek ini ada 4 modul yang dipersiapkan. Modul pertama berisi pengenalan ecoprint dan kearifan lokal. Modul 2 membahas tentang pengenalan alat dan bahan ecoprint. Praktek pembuatan ecoprint terdapat di modul 3.
Sementara itu fasilitator P5 SMPN 1 Raas, Sri Agustin, S.Pd yang akrab disapa Ibu Titin menjelaskan bahwa ada 2 teknik yang digunakan dalam pembuatan batik ecoprint ini yaitu teknik pounding (ketuk) dan teknik steam (kukus), Pembuatan ecoprint ini memerlukan waktu beberapa hari dalam beberapa tahap. Awalnya siswa menyiapkan kain yang dicuci bersih. Langkah kedua dengan mordanting kain.
“Tahap ini bertujuan membuka pori-pori kain sehingga warna dari daun akan mudah diserap kain. Pada proses mordant ini kain dilarutkan ke dalam air yang dengan dicampur cuka, tawas. Bahan ini direbus selama kurang lebih 2 jam,” ungkap Titin.
Mohammad Ferdiansyah, salah satu siswa SMPN 1 Raas saat dimintai keterangan menyatakan senang dengan adanya proyek pembuatan ecoprint ini. Ia merasa banyak manfaat yang bisa diambil diantaranya bisa lebih mengenal khasanah budaya batik.
“Sebelumnya saya belum pernah mendengar apa itu ecoprint. Dengan adanya proyek ini saya jadi lebih mengenal ecoprint dan proses pembuatannya,” ujar siswa kelas 7B tersebut.
Menurut Ferdi, untuk bahan daun juga tidak terlalu sulit dicari. Ia bersama anggota kelompoknya menggunakan daun jati muda, ketela, jambu, dan pepaya yang banyak ditemui sebagai motif ecoprint-nya. (IR)





Alhamdulillah lanjutkan...mulai ciptakan perubahan sedikit demi sedikit
BalasHapus